Bank Dunia Sarankan Indonesia Andalkan 'Small AI': Investasi Infrastruktur Digital dan Energi Jadi Kunci Melesat ke Peluang Ekonomi AI Global

JAKARTA — Bank Dunia memetakan peluang besar bagi kawasan Asia Timur dan Pasifik untuk menjaring manfaat ekonomi dari lonjakan kecerdasan buatan (AI) global, sekaligus mengidentifikasi ruang yang masih bisa digarap Indonesia agar tidak tertinggal dari negara-negara tetangga.
Dalam laporan East Asia and Pacific Economic Update edisi Oktober 2026 yang berjudul Riding the AI Wave, Wakil Presiden Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik Carlos Felipe Jaramillo menilai kawasan tersebut berada di posisi strategis berkat integrasinya yang dalam terhadap rantai nilai global dan dinamika ekonomi yang tinggi.
“Integrasi mendalam kawasan Asia Timur dan Pasifik pada rantai nilai global serta dinamika ekonominya telah menempatkan kawasan ini pada posisi yang tepat untuk memperoleh manfaat dari lonjakan aktivitas global terkait AI,” kata Jaramillo, dikutip ANTARA, Selasa (6/10/2026).
Namun, Bank Dunia juga mengingatkan bahwa tantangan terbesarnya bukan lagi soal produksi, melainkan soal adopsi. Sejumlah negara di kawasan memang sudah menikmati kenaikan aktivitas AI lewat produksi dan ekspor barang berteknologi tinggi, tetapi adopsi AI di sektor domestik dinilai masih belum merata dan secara umum berada di bawah negara-negara maju. Biaya tinggi, keterbatasan keterampilan sumber daya manusia, serta kekhawatiran keamanan dan privasi disebut menjadi faktor utama yang memperlambat proses itu.
Indonesia: Paparan AI Relatif Rendah, Permintaan Domestik Jadi Aset
Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Asia Franziska Ohnsorge menyebut posisi Indonesia cukup unik. “Khusus untuk Indonesia ini menarik. Indonesia relatif lebih sedikit terpapar dibandingkan negara-negara lain terhadap lonjakan aktivitas global yang berkaitan dengan AI ini,” ujarnya.
Ohnsorge menilai kekuatan utama ekonomi Indonesia justru bertumpu pada permintaan domestik. “Yang benar-benar kuat di (ekonomi) Indonesia adalah permintaan domestik. Hal itulah yang menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dan inilah yang sedikit membedakannya dari negara-negara lain di kawasan,” katanya.
Rekomendasi 'Small AI' untuk UMKM
Wakil Presiden Regional IFC untuk Asia dan Pasifik Sarvesh Suri menawarkan pendekatan pragmatis: alih-alih mengejar teknologi AI paling mutakhir, negara-negara berkembang — termasuk Indonesia — bisa segera memperoleh manfaat jangka pendek dengan mengadopsi teknologi yang sudah tersedia, yang dia sebut sebagai Small AI.
“Teknologi tersebut bisa dimanfaatkan guna meningkatkan produktivitas perusahaan, termasuk UMKM tanpa harus mengembangkan teknologi AI paling mutakhir,” jelas Suri.
Bank Dunia juga merekomendasikan agar pemerintah menggerakkan modal swasta untuk memperkuat infrastruktur digital dan energi, memperluas pendanaan bagi usaha, serta berinvestasi dalam pengembangan keterampilan tenaga kerja. “Dengan menggerakkan modal swasta untuk infrastruktur digital dan energi, meningkatkan pendanaan untuk usaha, serta berinvestasi dalam keterampilan tenaga kerja, negara-negara dapat mempercepat adopsi AI di seluruh sektor ekonomi sekaligus membantu usaha kecil menjadi lebih kompetitif, dinamis, dan tangguh,” ujar Suri.
Teknologi AI Harus Adaptif dengan Bahasa Lokal
Laporan Riding the AI Wave juga menekankan pentingnya penyesuaian teknologi AI dengan konteks lokal. Bank Dunia mengusulkan pengembangan perangkat AI yang terjangkau dan mendukung bahasa lokal, terutama untuk sektor-sektor yang banyak menyerap tenaga kerja seperti pariwisata dan agribisnis.
Pemerintah, lanjut laporan itu, didorong untuk berperan ganda: sebagai pengguna sekaligus regulator AI. Peran tersebut mencakup peningkatan layanan publik, pembangunan fondasi digital, penguatan kerangka regulasi, serta mendorong kerja sama regional.
Secara keseluruhan, Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Asia Timur dan Pasifik sebesar 4,5 persen pada 2026, dengan sejumlah negara mencatat pertumbuhan lebih tinggi berkat manfaat dari aktivitas ekonomi terkait AI. Sementara itu, dalam laporan terpisah yang dirujuk ANTARA, Bank Dunia juga menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5,2 persen tahun ini.
Artikel ini disusun berdasarkan laporan ANTARA News tertanggal 6 Oktober 2026, berjudul “Bank Dunia: AI dorong pertumbuhan ekonomi Asia Timur dan Pasifik,” yang merangkum isi laporan East Asia and Pacific Economic Update Oktober 2026 dari Bank Dunia.
More from the newsroom
CNBC Indonesia Oct 20, 2026 · 09:25
Telkomsel Luncurkan NextDev ke-12 dengan Tema AI-Powered Innovations: Cari Technopreneur Indonesia untuk Dikasih Pendampingan
ANTARA News Oct 20, 2026 · 09:24
Dari Nikel ke Chip: Wamenkomdigi Nezar Patria Tawarkan 'Jalan Mineral' agar Indonesia Jadi Pemain Utama Rantai Pasok AI Global
ANTARA News Oct 20, 2026 · 09:24
Menko Airlangga: AI, Semikonduktor, dan Talenta Jadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi Baru Indonesia
CNN Indonesia Oct 20, 2026 · 09:24