Back to newsroom

Mobile

Starlink Melangkah ke Bisnis Seluler, Ancaman Nyata bagi Telkomsel-Indosat-XLSmart: Lelah Bangun Menara Darat, Kini Satelit Bisa Hadir Lebih Dulu

CNBC Indonesia

Oct 20, 2026 · 09:24 · 3 min read

Starlink Melangkah ke Bisnis Seluler, Ancaman Nyata bagi Telkomsel-Indosat-XLSmart: Lelah Bangun Menara Darat, Kini Satelit Bisa Hadir Lebih Dulu

JAKARTA — Langkah SpaceX ke jantung bisnis telekomunikasi dunia memberi gelombang kejutan yang ikut terasa hingga Jakarta. Pembelian portofolio lisensi spektrum nasional di Amerika Serikat oleh perusahaan milik Elon Musk ini tak sekadar menggetarkan operator di Negeri Paman Sam, tetapi juga menjadi alarm nyata bagi Telkomsel, Indosat, dan XLSmart.

Pada Kamis, SpaceX mengumumkan kesepakatan pembelian portofolio lisensi spektrum dari perusahaan investasi Grain Management. Aset tersebut mencakup hingga 14 MHz spektrum berpasangan di pita frekuensi 800 MHz — pita frekuensi rendah yang selama ini dijuluki "frekuensi emas" karena jangkauannya yang luas dan kemampuannya menembus dinding gedung.

"Ini adalah kesepakatan yang sangat besar," tulis Elon Musk di akun X-nya.

800 MHz, Pita yang Sama dengan yang Digunakan Operator di RI

Menurut SpaceX, frekuensi tersebut menutup salah satu celah teknis terbesar yang tersisa, sehingga layanan Starlink Mobile dapat berkembang menjadi operator seluler mandiri (standalone) di Amerika Serikat. Efeknya langsung terasa di pasar modal: saham AT&T, Verizon, dan T-Mobile anjlok dalam perdagangan setelah jam tutup bursa.

Yang membuat langkah ini relevan bagi Indonesia adalah pita 800 MHz itu sendiri. Frekuensi yang dibeli SpaceX adalah pita yang juga digunakan operator di Indonesia untuk memperluas jangkauan sinyal ke wilayah terpencil dan perdesaan — wilayah yang kerap menjadi tantangan terbesar dalam pembangunan jaringan darat.

Konteksnya tak lepas dari dinamika spektrum nasional. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) baru-baru ini telah menyelesaikan lelang pita frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz. Dalam lelang itu, XL Axiata memenangkan blok pita 30 MHz (2x15 MHz) dengan total penawaran Rp1.060.200.000.000; Telkomsel mengajukan penawaran untuk 20 MHz (2x10 MHz) senilai Rp642,5 miliar; dan Indosat mengajukan penawaran untuk 20 MHz (2x10 MHz) dengan nilai Rp507.480.000.000.

Pelanggan Tak Perlu Lagi Menunggu Menara Darat

Perbedaan mendasar model Starlink ada pada arsitekturnya. Dengan kemampuan satelit Starlink yang terintegrasi langsung ke ponsel biasa, pelanggan dapat memperoleh sinyal di lokasi yang saat ini belum terjangkau menara BTS sekalipun. Artinya, pelanggan tidak lagi harus menunggu operator membangun infrastruktur darat yang mahal dan memakan waktu — satelit dapat hadir lebih dulu.

Hal inilah yang disebut para pengamat sebagai pergeseran struktural. Selama ini, konektivitas di kawasan terpencil sangat bergantung pada laju ekspansi jaringan darat operator yang terikat biaya, lahan, dan perizinan. Dengan model satelit langsung ke perangkat, tekanan terhadap jangkauan (coverage) operator bisa berubah dalam hitungan waktu yang jauh lebih singkat.

Saat ini, Starlink memang sudah beroperasi di Indonesia, tetapi terbatas pada layanan internet tetap berkecepatan tinggi. Langkah terbaru di Amerika Serikat, kata pengamat, menunjukkan arah baru bisnis SpaceX: layanan seluler langsung yang bersaing secara frontal dengan jaringan konvensional.

Belum Ada Rencana Masuk ke Seluler di Indonesia

Hingga saat ini, belum ada pengumuman resmi apakah SpaceX akan mengajukan permohonan lisensi spektrum serupa di Indonesia. Artinya, pasar seluler domestik masih menjadi wilayah Telkomsel, Indosat, dan XLSmart.

Namun, seperti ditegaskan dalam pemberitaan CNBC Indonesia, perkembangan ini tetap menjadi sinyal peringatan. Jika SpaceX memperluas model yang sama ke kawasan Asia Tenggara, struktur pasar telekomunikasi yang selama ini berdiri kokoh dapat berubah dengan cepat.

Bagi regulator dan operator Indonesia, pertanyaan krusialnya kini bergeser: bukan lagi sekadar bagaimana memperluas jangkauan darat, tetapi bagaimana menjaga daya saing layanan dan tarif ketika ada pihak yang mampu menghadirkan sinyal di "blank spot" tanpa menara. Itu adalah dilema baru yang belum sepenuhnya terjawab.

(*)

More from the newsroom

CNBC Indonesia Oct 20, 2026 · 09:25

Telkomsel Luncurkan NextDev ke-12 dengan Tema AI-Powered Innovations: Cari Technopreneur Indonesia untuk Dikasih Pendampingan

ANTARA News Oct 20, 2026 · 09:24

Dari Nikel ke Chip: Wamenkomdigi Nezar Patria Tawarkan 'Jalan Mineral' agar Indonesia Jadi Pemain Utama Rantai Pasok AI Global

ANTARA News Oct 20, 2026 · 09:24

Menko Airlangga: AI, Semikonduktor, dan Talenta Jadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi Baru Indonesia

CNN Indonesia Oct 20, 2026 · 09:24

Dari Fiber hingga Compute: Telkom Tawarkan 'AI Stack' Terintegrasi agar Indonesia Tak Sekadar Jadi Pengguna AI