Boros Frekuensi: Rasio Spektrum Layanan Internet Rakyat 1.4 GHz Jauh Melampaui Operator Seluler

Pemerintah memberikan pita frekuensi 1,4 GHz untuk layanan internet tetap nirkabel (Fixed Wireless Access/FWA) dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan lelang pita seluler. Namun, perhitungan data terbaru menunjukkan bahwa pemenang lelang justru memakai spektrum tersebut secara jauh lebih "boros" dibandingkan operator seluler besar yang melayani puluhan juta pelanggan.
Berdasarkan data lelang Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) dan laporan kinerja per kuartal II-2026, pemegang blok frekuensi 1,4 GHz yang dikenal dengan merek Surge (PT Solusi Sinergi Digital Tbk./WIFI) memiliki rasio alokasi frekuensi per pelanggan yang jauh melampaui Telkomsel, Indosat Ooredoo Hutchison, maupun XLSmart.
Data menunjukkan bahwa setiap satu juta pelanggan di jaringan seluler hanya membutuhkan alokasi frekuensi sekitar 1,7-3,3 MHz. Sementara untuk jumlah pelanggan yang sama, jaringan FWA di pita 1,4 GHz menyediakan lebih dari 150 MHz — hampir 50 hingga 90 kali lipat lebih banyak dibandingkan operator seluler.
Kementerian Komunikasi dan Digital sebelumnya menjelaskan bahwa harga dasar lelang pita 1,4 GHz memang ditetapkan lebih rendah. Tujuannya untuk memperluas akses internet di daerah yang belum terjangkau serat optik, bukan untuk persaingan layanan seluler yang padat penduduk.
Namun, karena jangkauan tiap pemancar FWA jauh lebih luas, kapasitas yang tersedia juga sangat besar. Akibatnya, jumlah pelanggan per MHz frekuensi menjadi jauh lebih kecil dibandingkan jaringan seluler yang padat di perkotaan.
Hingga akhir Juni 2026, Surge mencatat total pelanggan pita 1,4 GHz atau layanan Internet Rakyat (IRA) sebanyak 513.040 pelanggan — angka yang dinilai masih jauh di bawah kemampuan jaringan yang dibangun. Secara keseluruhan, WIFI tercatat memiliki 2,3 juta pelanggan, tetapi sebagian besarnya merupakan layanan internet jaringan tetap Starlite, bukan FWA.
Kesenjangan tersebut memicu pertanyaan soal efisiensi pemanfaatan spektrum: pita yang dialokasikan untuk memperluas akses justru belum terisi maksimal, sementara kapasitasnya puluhan kali lipat lebih "longgar" ketimbang jaringan seluler yang padat pelanggan.
More from the newsroom
ANTARA News Oct 6, 2026 · 09:49
Pemerintah Gerak Cepat: Energi Hijau dan Infrastruktur Digital Jadi Mesin Ganda Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
CNBC Indonesia Oct 5, 2026 · 15:29
Startup AI Indonesia Dokai Didakuisisi StackBlitz: Teknologi AI Agentnya Ditanam ke Bolt.new untuk Pasar Enterprise
CNBC Indonesia Oct 5, 2026 · 08:19
Indosat Restrukturisasi Bisnis Fiber Optik dengan Investor, Catat Keuntungan Rp1,64 Triliun
CNBC Indonesia Oct 6, 2026 · 09:49