Data Center AI Haus Air: Menperin Sarmuji Sarankan Lokasi Dekat Pantai agar Tak Berebutan Air dengan Warga

Jakarta — Lonjakan pembangunan pusat data atau data center berbasis kecerdasan buatan (AI) di Indonesia kini menyingkap persoalan tak kalah pelik dari listrik: kebutuhan air dalam skala besar. Menyadari hal itu, Menteri Perindustrian (Menperin) Sarmuji mengusulkan agar fasilitas tersebut ditempatkan di lokasi khusus, bahkan tidak tertutup kemungkinan di kawasan dekat pantai agar kebutuhan air dapat dipenuhi dari desalinasi air laut.
Usulan itu disampaikannya usai bertemu Ketua Himpunan Kawasan Industri (HKI) Indonesia, Akhmad Ma'ruf Maulana, di Kemenperin, Kamis (29/10/2026).
"Itu harus ditempatkan di tempat yang agak khusus sebenarnya. Kalau bisa data center di klaster karena membutuhkan daya dukung yang besar, listrik, air terutama," kata Sarmuji.
Ancaman konflik pemanfaatan air
Menurut Sarmuji, perencanaan lokasi yang kurang tepat berpotensi memicu perebutan sumber daya. Ia secara khusus mengingatkan agar data center jangan sampai menyaingi kebutuhan air masyarakat.
"Kita jangan sampai data center itu rebutan air dengan kawasan perumahan atau permukiman itu, nanti akan jadi konflik itu," ujarnya.
Untuk itulah, ia menyebut opsi lokasi dekat pantai layak dipertimbangkan. Air laut dapat diolah menjadi air tawar melalui proses desalinasi, meskipun kelayakan teknis dan kesiapan infrastruktur pendukungnya tetap harus diperhitungkan secara matang.
"Jadi perlu satu tempat khusus, mungkin lebih dekat dengan pantai supaya airnya berasal dari desalinasi air laut dan lain sebagainya. Harus dipikirkan sampai ke sana," kata Sarmuji.
Dorongan agar masuk kawasan industri
Ketua HKI Akhmad Ma'ruf Maulana sependapat. Ia berharap pembangunan data center diarahkan ke dalam kawasan industri agar lebih mudah diawasi sekaligus memudahkan pengelolaan kebutuhan infrastrukturnya.
"Ya, kami minta harapannya data center masuk ke dalam kawasan industri supaya mudah pengontrolannya juga. Dan juga masalah air dan listrik juga ya," kata Ma'ruf.
Usulan ini pada dasarnya mempertegas satu hal: bahwa pengembangan data center AI membutuhkan perencanaan kawasan yang jauh lebih spesifik dibanding industri biasa. Selain lokasi, pemerintah dan pengelola kawasan perlu memetakan sumber air, pasokan listrik, serta infrastruktur pendukung sejak awal, agar operasionalnya tidak berbenturan dengan kebutuhan dasar masyarakat sekitar.
Pesan ini semakin relevan di tengah rencana ekspansi kapasitas pusat data nasional yang terus dipacu untuk menopang pertumbuhan ekonomi digital. Namun di balik ambisi itu, daya dukung utilitas—khususnya air—menjadi variabel penentu yang tak bisa diabaikan.
More from the newsroom
CNBC Indonesia Nov 5, 2026 · 12:10
ELSAM Peringatkan UU Satu Data Bisa Bertabrakan dengan UU PDP, Otoritas Pelindungan Data Pribadi Belum Terbentuk
CNBC Indonesia Nov 5, 2026 · 12:10
235 Juta Warga Online, Indonesia Masuk 10 Besar Pengguna AI Generatif Dunia: Pemerintah Gesa Dua Perpres agar Ekosistem Tidak Terjebak Ketidakpastian
KOMPAS Nov 5, 2026 · 12:11
Lahan Sudah Disiapkan, Kajian Air Jadi Ujian Proyek Pusat Data AI di Batang
CNBC Indonesia Nov 5, 2026 · 12:11