Back to newsroom

AIData Center

Wamenko Dradjad Wibowo Ditugasi Pecahkan Teka-teki Air untuk Data Center AI: 'Nanti Saya Bicara Setelah Mulai Mengerjakan'

CNN Indonesia

Oct 9, 2026 · 08:57 · 2 min read

Wamenko Dradjad Wibowo Ditugasi Pecahkan Teka-teki Air untuk Data Center AI: 'Nanti Saya Bicara Setelah Mulai Mengerjakan'

Jakarta — Upaya pemerintah menjadikan Indonesia sebagai basis industri pusat data (data center) kecerdasan buatan (AI) kini memasuki fase baru yang lebih konkret. Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo resmi ditugaskan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto untuk mencari solusi kebutuhan air dalam pengembangan data center AI di dalam negeri.

"Saya membantu beliau (Airlangga) mencari solusi untuk masalah air. Terutama masalah air, masalah energi, dan kesiapan masyarakat," kata Dradjad dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (8/10/2026).

Tiga Syarat Utama Jadi Markas Data Center Global

Dua hari sebelumnya, Airlangga memaparkan tiga prasyarat yang harus dipenuhi Indonesia agar mampu menjadi markas industri data center di tengah perlombaan global: ketersediaan lahan, listrik, dan air. Pernyataan itu ia sampaikan dalam keynote speech acara BIG Downstream Insights 2026 di Jakarta, Selasa (6/10).

"Kuncinya adalah ketersediaan lahan, ketersediaan listrik, dan ketersediaan air," tegas Airlangga.

Ia menyebut kawasan ekonomi khusus (KEK) digital di Bintan, Kepulauan Riau, sudah "sold out" sehingga pemerintah menyiapkan ekspansi. Selain Bintan, kawasan Karawang di Jawa Barat juga disiapkan sebagai lokasi pengembangan data center karena kedekatan dengan pasar domestik.

Dalam dua hingga tiga tahun ke depan, Airlangga memperkirakan tambahan kapasitas listrik nasional bisa mencapai sekitar 500 megawatt untuk menopang kebutuhan industri digital dan data center.

AI Dinilai Penentu Kekuatan Negara Lima hingga 10 Tahun ke Depan

Dradjad menekankan bahwa Indonesia tidak bisa tinggal diam menghadapi perkembangan AI. "Lima tahun, 10 tahun yang akan datang, kekuatan ekonomi, kekuatan teknologi, kekuatan militer, kekuatan geopolitik itu salah satunya akan sangat tergantung kepada AI," ujarnya.

Menurutnya, setiap pembangunan data center menguras energi dan air dalam jumlah besar. Ia menegaskan teknologi baru selalu datang dengan dua sisi: peluang sekaligus tantangan, dan salah satu tantangan terbesarnya adalah pasokan air serta energi.

"Butuh energi banyak, butuh air banyak," katanya.

Belum Ada Rincian Solusi, Dradjad Tunggu Mulai Bekerja

Dradjad belum merinci bentuk solusi yang akan diusulkan. Ia hanya menyatakan akan bicara lebih banyak setelah mulai mengerjakannya. "Nanti saya akan bicara lebih banyak setelah saya mulai mengerjakan," ucapnya.

Airlangga menambahkan bahwa pengembangan AI juga bergantung pada kualitas data. "Tanpa data yang kredibel, AI tidak mampu untuk meng-crawling data yang baik," jelasnya, menggarisbawahi bahwa infrastruktur komputasi saja tidak cukup tanpa ekosistem data yang andal.

Langkah ini menjadi sinyal bahwa pemerintah mulai menyikapi persoalan riil di balik euforia investasi data center—yaitu kebutuhan utilitas yang tidak bisa diabaikan—sementara minat investasi di sektor tersebut terus membanjiri pasar Indonesia.

More from the newsroom

ANTARA News Oct 9, 2026 · 09:28

Dradjad Wibowo: Indonesia Harus Jadi Pemain Utama AI, Bukan Sekadar Pengikut

ANTARA News Oct 9, 2026 · 08:56

PLN Pasok Listrik Terbesar untuk Data Center: 511 MVA untuk Proyek DayOne di Batam

CNBC Indonesia Oct 9, 2026 · 08:56

Digital Realty Bersama Naikkan Raymond Yan Jadi President Director, Bidik Lonjakan Kebutuhan AI dan Interkoneksi di Indonesia

CNBC Indonesia Oct 9, 2026 · 08:56

Gelombang Penolakan Data Center Meluas ke Berbagai Negara, Investor AI Hadapi Risiko Baru