Back to newsroom

AICloudSecurity

Dari Kelas ke Industri: AI Talent Factory Komdigi Mau Mahasiswa Keluar dengan Karya, Bukan Sekadar Sertifikat

ANTARA News

Oct 27, 2026 · 08:02 · 3 min read

Dari Kelas ke Industri: AI Talent Factory Komdigi Mau Mahasiswa Keluar dengan Karya, Bukan Sekadar Sertifikat

Jakarta — Di tengah ambisi besar Indonesia membangun ekosistem kecerdasan buatan (AI) yang mandiri, satu titik lemah berulang kali disebut para pelaku industri: ketersediaan orang yang benar-benar mampu menjalankan proyek AI di lapangan. Melalui program AI Talent Factory, Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) memilih pendekatan yang berbeda — mahasiswa tidak lagi sekadar mengikuti kuliah, melainkan langsung "dibakar" dengan persoalan nyata.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kemkomdigi, Boni Pudjianto, menjelaskan bahwa mahasiswa yang berada di tahap akhir kuliah atau sedang mengerjakan tugas akhir langsung terlibat dalam proyek nyata yang disiapkan pemerintah. Mereka bekerja dalam tim kecil mencari solusi atas persoalan yang dihadapi kementerian, lembaga, pemerintah daerah, industri, dan sektor publik.

"Keunggulan program ini adalah mahasiswa yang sudah berada di tahap akhir kuliah atau sedang mengerjakan tugas akhir langsung terlibat dalam proyek nyata yang kami siapkan," kata Boni, sebagaimana dikonfirmasi di Jakarta, Kamis (22/10/2026).

Bekerja seperti di kantor

Program ini dijalankan melalui kolaborasi dengan sejumlah perguruan tinggi, antara lain Universitas Brawijaya, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Politeknik Negeri Padang (PNP). Peserta tidak hanya dibekali fondasi keilmuan seperti data science, machine learning, dan deep learning, tetapi juga ditantang menyelesaikan studi kasus yang mencerminkan kebutuhan dunia kerja.

Setiap tim kecil didampingi tiga lini pendamping: mentor teknis Komdigi, mentor dari pemilik use case, dan dosen pembimbing dari kampus masing-masing. Model tiga-mentor ini, menurut Boni, dirancang agar mahasiswa belajar dalam dinamika yang menyerupai lingkungan kerja nyata, bukan kelas yang terisolasi dari industri.

Tujuannya jelas: mempersempit kesenjangan antara kompetensi lulusan dan kebutuhan perusahaan, sehingga setelah lulus mereka "lebih siap memasuki dunia industri dan menjadi talenta yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing perusahaan."

Sorotan pengamat: jangan berhenti di prototipe

Pengamat telekomunikasi Heru Sutadi, Direktur Eksekutif ICT Institute, menilai program memiliki potensi kuat untuk menjembatani kesenjangan sumber daya manusia di bidang AI karena peserta diarahkan mengerjakan kasus nyata bersama perguruan tinggi, pakar, dan industri. Ia juga mengapresiasi integrasi program ini dengan AI Talent Pool BUMN sebagai langkah strategis menghubungkan hasil pelatihan dengan kesempatan kerja.

Namun Heru mengingatkan agar kurikulum tidak berhenti pada kemampuan teknis pembuatan model semata. Talenta AI, katanya, juga dituntut memahami ekosistem pendukung seperti rekayasa data, komputasi awan (cloud), keamanan siber, integrasi sistem, etika AI, pelindungan data pribadi, hingga kebutuhan bisnis.

"Kita tidak cukup mencetak orang yang mampu membuat model AI; kita membutuhkan talenta yang mampu membangun solusi yang aman, bermanfaat, dan benar-benar digunakan," ujarnya.

Heru memetakan empat langkah yang ia nilai krusial: penerapan evaluasi berbasis hasil (mengukur kompetensi lulusan, penyerapan kerja, dan solusi yang diimplementasikan); perluasan kemitraan dengan BUMN, startup, dan pemerintah daerah agar karya tidak mandek sebagai prototipe; penyediaan dukungan pascapelatihan berupa pendanaan, akses komputasi, dan pendampingan bisnis; serta pemerataan akses agar talenta di luar kota-kota besar ikut berkembang.

"AI Talent Factory harus menjadi ekosistem yang menghubungkan talenta, riset, industri, dan pasar, bukan sekadar program pelatihan. Ukuran akhirnya adalah produktivitas, inovasi, lapangan kerja berkualitas, dan tumbuhnya produk AI karya Indonesia."

Program AI Talent Factory dirancang Kemkomdigi sebagai pusat pengembangan talenta digital berbasis riset dan industri, dengan lulusan diarahkan ke proyek strategis nasional di sektor prioritas seperti kesehatan, pendidikan, layanan keuangan, hingga pertanian.

More from the newsroom

ANTARA News Oct 27, 2026 · 08:02

Kekurangan 2,7 Juta Talenta Digital dan Ancaman AI Agentic Jadi Uji Nyata di Balik Mimpi Kedaulatan Komputasi Indonesia

ANTARA News Oct 26, 2026 · 09:03

Dari Surabaya hingga Manado: Telkom Angkat 'Monopoli' Jakarta-Batam sebagai Pusat Pertumbuhan Infrastruktur AI

CNBC Indonesia Oct 26, 2026 · 09:03

Meutya Hafid Tinjau NeutraDC di Bali Tech Week: TelkomGroup Kerek Kesiapan AI-Ready Data Center Demi Kedaulatan Digital RI

CNBC Indonesia Oct 26, 2026 · 09:03

Kemenko Perekonomian Potong Kue AI Rp 7.202 Triliun: Empat Prioritas dari Tambahan 70 GW Listrik hingga 9 Juta Talenta Digital