Dari Surabaya hingga Manado: Telkom Angkat 'Monopoli' Jakarta-Batam sebagai Pusat Pertumbuhan Infrastruktur AI

DENPASAR – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk menegaskan arah ekspansi infrastruktur kecerdasan buatan (AI) tidak akan lagi berhenti pada dua titik pertumbuhan yang selama ini mendominasi, yakni Batam dan Jakarta. Perusahaan pelat merah itu memilih untuk menggerakkan kembali arus investasi ke kota-kota penyangga seperti Surabaya, Solo (Surakarta), dan Manado agar manfaat ekonomi digital benar-benar menyebar ke seluruh penjuru Nusantara.
Direktur Network PT Telkom Indonesia, Budi Satria Dharma Purba, menyampaikan pandangan tersebut dalam forum Bali Tech Week yang berlangsung di Sanur, Denpasar, Selasa (20/10). Ia mengakui pengembangan pusat data di Batam menjadi peluang bisnis yang penting dan bernilai strategis.
Namun, menurut Budi, menjadikan Indonesia sekadar lokasi alternatif untuk menampung kebutuhan pusat data dari Singapura bukan tujuan akhir perusahaan. Ia menekankan bahwa pemerataan infrastruktur justru menjadi syarat utama bagi terbangunnya ekosistem digital secara menyeluruh.
“Jika kita ingin menciptakan dampak nyata bagi ekonomi digital Indonesia, pengembangannya harus terdistribusi,” kata Budi.
Tiga Kota Jadi Titik Tolak Berikutnya
Dalam paparannya, Budi secara eksplisit menyebut Surabaya sebagai salah satu kota yang perlu mendapat perhatian utama dalam peta jalan konektivitas AI Telkom. Disusul Solo dan Manado sebagai simpul pertumbuhan berikutnya.
Pengembangan jaringan di ketiga kota tersebut diharapkan membuka peluang bagi pertumbuhan kegiatan ekonomi digital di berbagai wilayah Indonesia yang selama ini tertinggal dari dua pusat pertumbuhan utama di Pulau Jawa dan Kepulauan Riau.
Selain jaringan domestik, Budi mengungkapkan Telkom juga tengah mengembangkan konektivitas dari Batam menuju Singapura, Johor, dan kawasan internasional lainnya. Infrastruktur lintas negara itu menjadi bagian dari penguatan hubungan digital kawasan, tetapi pengembangan jaringan domestik tetap diprioritaskan untuk memperluas dampak ekonomi di dalam negeri.
Konektivitas Saja Tidak Cukup
Budi menegaskan bahwa pembangunan pusat data dan jaringan berkapasitas besar tidak akan otomatis melahirkan manfaat ekonomi yang merata. Ekosistem AI membutuhkan tiga elemen yang saling menguatkan: konektivitas, energi, dan pemanfaatan teknologi yang relevan dengan kebutuhan industri, pemerintah, dan masyarakat di setiap daerah.
“Konektivitas itu penting, energi juga penting, tetapi kita juga perlu melihat penggunaan nyata yang bisa diterapkan untuk membantu ekonomi digital,” ujarnya.
Dengan pendekatan tersebut, Telkom berharap pengembangan AI tidak lagi menjadi proyek yang menumpuk di beberapa kawasan saja, melainkan menjadi motor penggerak aktivitas ekonomi di berbagai kota. Fokus pada pemanfaatan nyata diharapkan mampu menciptakan peluang pemanfaatan teknologi yang kontekstual dan mengurangi konsentrasi pertumbuhan digital pada sejumlah kawasan tertentu.
Langkah ini juga sejalan dengan tren nasional yang tengah mempercepat pemerataan pusat data ke Indonesia Timur, seiring proyeksi kebutuhan listrik pusat data dalam negeri yang terus melonjak ditopang ledakan pelatihan dan inferensi AI.
More from the newsroom
CNBC Indonesia Oct 26, 2026 · 09:03
Meutya Hafid Tinjau NeutraDC di Bali Tech Week: TelkomGroup Kerek Kesiapan AI-Ready Data Center Demi Kedaulatan Digital RI
CNBC Indonesia Oct 26, 2026 · 09:03
Kemenko Perekonomian Potong Kue AI Rp 7.202 Triliun: Empat Prioritas dari Tambahan 70 GW Listrik hingga 9 Juta Talenta Digital
CNN Indonesia Oct 26, 2026 · 09:02
Kebutuhan Listrik Pusat Data RI Capai 20 GW, Pemerintah Bidik Batam-Karimun-Bintan Jadi Hub Baru
KOMPAS Oct 26, 2026 · 09:04