Back to newsroom

AccessMobile

Di Balik Gemuruh 5G, Layanan 2G Masih Memegangi Spektrum 900 MHz yang Diidamkan Operator

KOMPAS

Oct 26, 2026 · 09:04 · 2 min read

Di Balik Gemuruh 5G, Layanan 2G Masih Memegangi Spektrum 900 MHz yang Diidamkan Operator

JAKARTA — Di balik antusiasme para operator dalam menggarap layanan 5G dengan lebar pita frekuensi yang baru mereka dapatkan, tersimpan satu kegelisahan yang menekan hampir semua pelaku industri. Jaringan generasi kedua (2G) yang sudah berumur puluhan tahun masih beroperasi dan menempati pita frekuensi bawah yang justru paling diincar untuk pembangunan 5G.

Hal ini disorot pengamat telekomunikasi Moch S. Hendrowijono dalam kolom di Kompas.com, 24 Oktober 2026. Menurutnya, saat para operator membutuhkan spektrum yang lebar untuk 5G, pemerintah dinilai masih membiarkan 2G berjalan. Teknologi generasi kedua ini dinilai "rakus melahap" frekuensi bawah, terutama di rentang 900 MHz, dengan imbal hasil yang minim dan efisiensi yang rendah.

"Operator ingin layanan 2G hengkang agar spektrum 900 MHz bisa mereka gunakan untuk 5G, karena radius cakupannya bisa mencapai 17 kilometer," demikian tulis Hendrowijono.

Spektrum yang Berdesakan

Kondisi riil di pita 900 MHz memang tidak sederhana. Dari total 25 MHz yang tersedia di pita ini, sekitar 10 MHz dikuasai Indosat Ooredoo Hutchison, sementara masing-masing 7,5 MHz dimiliki Telkomsel dan XLSmart. Pita tersebut kini dipakai "berdesakan" oleh layanan 2G dan 4G secara bersamaan.

Keterbatasan itu terasa di Telkomsel dan XLSmart. Karena 4G LTE bekerja dengan kanal selebar 5 MHz, masing-masing dari kedua operator tersebut menyisakan jatah 2,5 MHz yang menganggur di 900 MHz. Alih-alih memberi manfaat, sisa pita itu justru menjadi beban di jaringan.

900 MHz dan 700 MHz Jadi 'Spektrum Emas'

Ketertarikan operator pada frekuensi bawah bukan tanpa alasan. Pita 900 MHz, bersama 700 MHz, dipandang sebagai "spektrum emas" untuk 5G. Daya jangkau hingga belasan kilometer dan kemampuan menembus halangan seperti dinding atau vegetasi lebat membuat frekuensi rendah sangat tepat untuk menyebarkan cakupan secara luas, bukan sekadar menambah kecepatan di area padat.

Hal ini sejalan dengan hasil lelang dan seleksi pengguna pita frekuensi 700 MHz yang baru rampung pada Juli 2026. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menetapkan tiga operator—XLSmart, Telkomsel, dan Indosat—sebagai pemenang seleksi di pita 700 MHz, dengan XLSmart menempati alokasi blok terbesar. Penetapan itu juga disertai kewajiban bagi para operator untuk melakukan pemerataan layanan 4G dan 5G hingga beberapa tahun ke depan.

Arah yang Ditunggu

Perkembangan ini menambah tekanan pada keputusan kebijakan soal masa depan 2G. Di satu sisi, penghapusan layanan generasi lama dapat membebaskan spektrum yang selama ini terpakai untuk teknologi boros sumber daya. Di sisi lain, transisi semacam itu selalu menyangkut nasib pengguna yang masih bergantung pada layanan 2G, terutama di wilayah yang belum tersentuh jaringan modern.

Bagi para operator, kejelasan soal kapan dan bagaimana 2G "hengkang" menjadi kunci. Tanpa pembebasan pita bawah yang memadai, ambisi menghadirkan 5G dengan cakupan luas—dan bukan hanya noda-noda kecil di frekuensi 1800 MHz dan 2100 MHz milik 4G—akan terus tersandung oleh beban warisan masa lalu.

More from the newsroom

ANTARA News Oct 26, 2026 · 09:03

Status PSN Masih Digodok: Nezar Patria Buka Arah Regulasi Pemerataan Pusat Data RI hingga Indonesia Timur

ANTARA News Oct 26, 2026 · 09:03

Gugus Tugas AI Nasional Siap Diformasi: Pemerintah Maunya Regulasi Kecerdasan Artifisial Bukan Cuma Terbit, tapi Jalan Nyata di Lapangan

ANTARA News Oct 26, 2026 · 09:02

Mengejar Pemerataan: Kemkomdigi Buka Jalan Pusat Data AI hingga Indonesia Timur lewat RPerpres Kabel Laut dan Konektivitas Cadangan

ANTARA News Oct 26, 2026 · 09:02

Meutya Hafid Desak Platform Digital Buka 'Kotak Hitam' Algoritma: 235 Juta Warga Terhubung, Pertanggungjawaban Jadi Tuntutan