Peringatan Interpol: Agentic AI Beralih dari Ancaman Digital ke Ancaman Fisik, Bisnis Indonesia Butuh Ulang Strategi Pertahanan

JAKARTA, 8 Oktober 2026 – Peringatan keras datang dari panggung global soal kecerdasan buatan generatif. Bjorn R. Watne, Global Chief Information Security Officer Interpol, menilai bahwa AI tidak menciptakan jenis kejahatan baru, tetapi mengubah skala dan kecepatan teknik penipuan yang sudah lama beredar. Artinya, penipu dari belahan dunia mana pun kini bisa menjangkau korban di Indonesia dalam hitungan detik, lengkap dengan terjemahan bahasa Indonesia yang nyaris sempurna dan identitas digital yang tak terbedakan dari yang asli.
"Ini adalah evolusi, bukan revolusi," tegas Watne dalam pernyataan yang dikutip CNBC Internasional (5/10/2026) dan dilaporkan CNBC Indonesia (6/10/2026). "AI terutama meningkatkan kecepatan dan skala teknik kejahatan yang sudah digunakan."
Dari Informasi yang Salah ke Tindakan yang Salah
Yang membedakan era ini dari gelombang penipuan daring sebelumnya adalah kemunculan agentic AI — sistem yang tidak sekadar menjawab pertanyaan, tetapi mampu mengambil tindakan atas nama pengguna: mengatur transaksi, mengendalikan perangkat, menyetir kendaraan, hingga mengoperasikan mesin industri. Watne secara eksplisit menyebut mobil dan kendaraan otonom sebagai area yang harus diawasi ketat, karena kesalahan satu langkah bisa berujung pada cedera fisik atau korban jiwa, bukan sekadar kerugian finansial.
"Satu hal jika AI memberikan informasi yang salah kepada Anda. Namun ketika AI benar-benar melakukan suatu tindakan dan mulai melakukan tindakan yang salah, terutama di ranah fisik, hal itu dapat menimbulkan konsekuensi berupa cedera fisik pada manusia," ujarnya.
Jurang Kepercayaan yang Eksploitabel
Watne mengidentifikasi satu titik lemah yang sering diabaikan: jurang kepercayaan. Di sektor perbankan, pengguna masih mewaspadai risiko pencurian PIN dan data kartu. Namun begitu berbicara soal perangkat teknologi, mobil otonom, atau aplikasi baru, masyarakat cenderung menerima dengan tingkat kepercayaan yang sangat tinggi tanpa kewaspadaan sepadan.
"Ketika menyangkut teknologi, tingkat kepercayaannya sangat tinggi," katanya. Semakin AI diberi otonomi untuk bertindak atas nama manusia, semakin penting bagi industri untuk mengkalibrasi ulang batas antara kepraktisan dan keamanan.
Strategi "Crown Jewels": Lindungi Yang Paling Krusial Dulu
Daripada mencoba membentengi seluruh aset dari segala kemungkinan ancaman secara serentak, Watne mendorong perusahaan untuk mengidentifikasi crown jewels — aset paling vital bagi kelangsungan operasi. Setelah itu, petakan siapa yang paling berkepentingan mencuri atau mengganggu aset tersebut, lalu gunakan intelijen ancaman untuk memahami metode pelaku dan menyesuaikan pertahanan secara spesifik.
"Tidak perlu semua orang mencoba melindungi diri dari segala hal sekaligus ketika mereka tidak menjadi target dari ancaman tersebut," katanya.
Ia menambahkan bahwa banyak organisasi yang strategi keamanannya belum tersambung ke manajemen senior. Padahal, hampir semua perusahaan di era ini pada dasarnya adalah perusahaan teknologi — dan perlakuan keamanan siber harus setara dengan perlakuan risiko operasional lainnya di ruang dewan direksi.
Implikasi bagi Ekosistem Digital Indonesia
Bagi industri telekomunikasi dan teknologi di Indonesia, pesan Watne memiliki dua implikasi langsung. Pertama, operator telekomunikasi, provider cloud, dan platform digital yang mulai mengadopsi agentic AI untuk otomasi layanan pelanggan, provisioning jaringan, dan operasional back-office perlu meninjau ulang batasan otonomi sistem: apa yang boleh dilakukan secara mandiri dan apa yang wajib melewati persetujuan manusia.
Kedua, dengan posisi Indonesia sebagai salah satu pasar digital terbesar di Asia Tenggara dan volume serangan siber yang terus tumbuh, koordinasi lintas lembaga antara Komdigi, BSSN, dan kepolisian siber menjadi semakin krusial — terutama untuk mengantisipasi gelombang penipuan berbasis AI yang menargetkan jutaan pengguna di dalam negeri.
Peringatan Interpol bukan ajakan untuk berhenti mengadopsi AI. Ia adalah pengingat bahwa semakin besar otonomi yang diberikan, semakin jelas pula batas pertanggungjawaban yang harus ditetapkan.
More from the newsroom
ANTARA News Oct 9, 2026 · 08:56
UI Jajaki Kolaborasi Keamanan Siber dan AI dengan Positive Technologies Rusia, Bidik Pengembangan Talenta Digital Nasional
CNN Indonesia Oct 9, 2026 · 08:56
Dapat Jatah Spektrum Baru, XLSmart Kerek Target Jangkauan 5G ke 101 Kota hingga Akhir 2026
ANTARA News Oct 9, 2026 · 09:28
Dradjad Wibowo: Indonesia Harus Jadi Pemain Utama AI, Bukan Sekadar Pengikut
CNN Indonesia Oct 9, 2026 · 08:57