Proyek Data Center AI BDx di Jatiluhur Disetop, Lantaran AMDAL dan Izin Gedung Belum Tuntas

Pemerintah Provinsi Jawa Barat menghentikan sementara proyek pusat data kecerdasan buatan (AI) milik BDx Data Centers di kawasan Jatiluhur, Purwakarta. Penghentian itu dilakukan karena sejumlah persyaratan pembangunan, mulai dari Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) hingga Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), masih berproses.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Barat Adi Komar membenarkan langkah tersebut. "Betul [dihentikan sementara], sampai dengan perizinan dikeluarkan Pemkab Purwakarta. Ada beberapa persyaratan izin yang masih dalam proses, terhadap izin yang dikeluarkan Pemkab Purwakarta," kata Adi kepada CNBC Indonesia, Rabu (30/9/2026).
Skala Proyek yang Masif
Proyek yang dijuluki Kampus CGK4 itu sebenarnya baru mulai dibangun pada 22 September 2026. Fasilitas berdiri di atas lahan sekitar 8.000 meter persegi dengan rencana pengembangan seluas 11 hektare, berjarak sekitar lima kilometer dari Bendungan Jatiluhur.
Rencana kapasitas listriknya mencapai 640 megawatt (MW), dengan Gedung 1 disasar berkapasitas 120 MW secara bertahap dan direncanakan mulai beroperasi pada awal 2027. Pengembangan fasilitas ini ditargetkan berlangsung selama tiga tahun untuk menjawab permintaan AI yang terus meningkat.
Pada sisi teknis, pusat data tersebut menggunakan arsitektur pendingin cair langsung ke chip (direct-to-chip liquid cooling) yang dirancang untuk beban hingga 500 kW per rak bagi generasi akselerator AI. Dalam keterangannya, perusahaan menyebut CGK4 menjadi bagian dari ekspansi AI BDx yang didukung fasilitas pinjaman sebesar US$320 juta pada 2026, dengan proyeksi membuka 2.000 sampai 3.000 lapangan kerja secara bertahap.
Sorotan soal Kebutuhan Air
Di balik angka kapasitas listrik itu, kekhawatiran justru menumpuk pada kebutuhan sumber daya air. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyoroti bahwa kebutuhan air pusat data mencapai 384 liter per detik (LPS) atau sekitar 0,4 meter kubik per detik, dan diprediksi terus naik seiring pengembangan fasilitas.
"Kebutuhannya tidak mengganggu alokasi air untuk sektor pertanian. Dari penjelasan yang diterimanya, kebutuhan air pusat data mencapai 384 liter per detik. Tahap awalnya akan membutuhkan 6.000 meter kubik per hari," ujar Dedi. Ia menegaskan kebutuhan air seharusnya sudah dihitung sejak awal, bukan dibahas setelah operasional penuh dilakukan.
Anggota Komisi V DPRD Jawa Barat, Maulana Yusuf Erwinsyih, mengingatkan agar manfaat dan risiko proyek diperhitungkan secara terbuka. "Seharusnya pemerintah membuka ke publik plus-minus data center AI tersebut. Keuntungannya bagaimana dan kerugiannya bagaimana. Banyak hasil riset yang mengungkap dampak dari keberadaan data center AI, mulai dari penggunaan air, potensi bakteri tertentu dalam air buangan, kebisingan, karbon, dan sebagainya," ujarnya.
Menurutnya, kebutuhan industri tidak boleh menggeser kepentingan petani yang bergantung pada sistem irigasi Waduk Jatiluhur.
Isyarat untuk Tata Kelola yang Lebih Ketat
Penghentian ini menjadi pengingat bahwa lonjakan proyek pusat data di Indonesia tidak hanya soal daya dan investasi, tetapi juga kelengkapan perizinan dan tanggung jawab lingkungan. Dengan lokasi yang berdekatan dengan sumber air vital bagi pertanian, kasus CGK4 diperkirakan akan memperkuat tuntutan agar standar lingkungan, sosial, dan energi menjadi syarat mutlak dalam setiap perizinan pusat data ke depan.
Sementara itu, proyek masih berstatus dihentikan sementara dan berpotensi dilanjutkan kembali setelah seluruh izin rampung.
More from the newsroom
CNN Indonesia Oct 5, 2026 · 08:20
Putusan MK soal MNP: Peluang Pindah Operator Sambil Menjaga Nomor Tetap, Beserta Dampaknya ke Routing Jaringan
ANTARA News Oct 5, 2026 · 08:20
Kemkomdigi Bekerja Sama dengan Polri dan BSSN Usut Sindikat Jual Beli Data Pribadi Ilegal di Indonesia
ANTARA News Oct 5, 2026 · 08:19
Gelombang Investasi Data Center Membutuhkan Aturan Main: IESR Desak Regulasi Safeguard AI dengan Standar Energi dan Lingkungan
CNN Indonesia Oct 5, 2026 · 08:19